Rabu, 10 April 2013

Masih Sisa

Semuanya masih sama, tumpukan baju lusuh berserakan di antara lemari, kasur tanpa alas, tidur tanpa selimut? Acara-acara Di TV juga membosakan hanya ada 4 cheenal, takada kartun, pertadingan sepak bola dari club favorit. 

 Masih sama, dedak kopi terasa pahit, asap rokok bergumuh di dalam ruangan 4X6 Meter berjendela sempit tak memungkinkan matahari menguisik masuk, atau angin-angin yang mengajak terbang seperti pahlawan ke gedung-gedung penyanggah langit:bersayap, bertopeng dan berbagai kemampuan super heronya; 

 Sama sekali masih tetap, Aku laki-laki puisi yang di hadapakan beberapa butiranpertanyaan? Ketika bertemu seseorang: “ kau lusuh sangat, pikiranmu tertinggal dimana? Katanya. Sesaat ku pajang wajahnya sebelum lari dari pikiranku. Sama sekali sudah terbiasa, Ponselku hanya di ramaikan pesan dari ayah:“Cung ini ada kerjaan baru masih di kemas rapi, juga hangat yang harus di selesaikan besok untuk di tanda tangani para pengabul Do’a-do’a.” Huruf-huruf itu seperti menari-nari dimataku, mungkin  suatu penyakit  [Deksleksia] yang di hidap para penemu itu, hidup katamu:"hanya sebuah malam, yang untuk menimbun pikiran impian kedalam mimpi meski berangkas sudah hampir penuh",Satu di tambahkan satu menjadi angkaatau bilangan yang bisa di pahami oleh lokgika dan seterusnya, tak seperti upah[gaji]guru honorer turunya tak mesti tanggal satu, satu mungkin di tambahakanbeberapa alasan yang memungkinkan hampir mati rasa, seketika nasib bak burung-burung hitam menari-nari di atas kepala.

 Masih Aku, sebelum pergi telah ku sisikan kasih dan sayang padanya, di balik bantal,di atas lemari dan di depan pintu untuk di pahami dan di mengerti.
 Aku pamit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar