Jumat, 12 April 2013

Maret Menjadi Cerita

Ini bulan maret,  Aku tetap sama yaitu laki-laki puisi; berkata, bermakna, merubah raut wajah menjadi apa saja? Berjalan menembus akhir,  hari tetap saja begitu: pagi, siang dan malam Aku seperti sudah di kalkulasikan sebagai angka-angka seperti haraga bawang yang kian hari kian mencekik para kalangan bawah: sungguh tanda-tanda akhir menuju mati? Selain itu yang di takuti adalah harga rokok yang paling di khawatirkan.  Tertawalah sedini mungkin, sebab kita layak mendapatakan segalanya, mulai dari jalan yang beraspal, jaminan kesehatan dan pendidikan gratis; kau suka isi hatiku? Mata, Hati Dan pikiran saling membunuh; itu saja sudah cukup, untuk mereka, Aku: "Kami Tidak Takut",Kita tak pasti, juga ketika menyaksikan kesibukan pagi-pagi burung itu masih saja bernyanyi "Hati kami lag-lagi di tebangi, benarkah kami yang harus pergi? (barangkali begitulah bunyi nyanyaianya), Aku mengkhayal kedamaian rembulan dalam dongeng ibu menjelang tidurku "Ini Cinta Kita, anakku'' cintailah selalu dan jangan buat kehancuran di dalamnya; Lewat begitu saja, Kau memanggilku di balik semakbelukar? oh ternyata itu hanya sesisa pikiran kosongku saja, menjelang Aku terlelap. Kecup;

Yaitu Aku, di atas kepala ada Awan hitam yang pekat terus mendekat, menguncang pikranku, Seketika nasib membayang seperti warna langit di alir sungai setengah membekuk.
"Panggil aku ke dalam sepimu," Tulis,” Kebaikan kadangkala hanya menjadi lintasan alfabet di atas air yang tak menyisahkan kalimat; keburukan dan kejahatan seolah tertulis dalam pahatan batu yang tak hilang dalam ratusan abad perjalanan sejarah”. Ku ingat bukan?  Sejujurnya begitu, mengadu kepada ibumu yang telah tiada itu? Sungguh Aku tidak ingat apa ujung kalimat yang kau ucap siang tadi, sebelum hujan reda, sebelum kata kerja, sisipan, kata benda, menjelma tanda, ikon, apapun namanya dalam puisi yang kau tulis dengan tangan gemetar menolak kesunyian.
Masih ada banyak beberapa alasan kenapa Aku tak juga mencintaimu: aku tergoda, terpukau akan puisi-puisi mu: “Pada baris dan bait puisi yang kutulis, akan kau kenal dengan baik suaraku; bagaimana aku menebang juga menimbang kesepian , kesunyian dan kesendirian.

Ya,memang ada jeritan di matanya DindaDan
Sisa airmata yang mengental, di kedalaman yang luput, Aku minta maaf dari buku sejarah pernah kutulis semakin hari memudar tentang namamu. Di situ aku menemukan Lampu Merah yang menyala sepanjang arah dan aku tak peduli; bahawa esok hari aku lebih baik mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar