Yaitu Aku, di atas kepala ada Awan hitam yang pekat terus mendekat, menguncang pikranku, Seketika nasib membayang seperti warna langit di alir sungai setengah membekuk.
"Panggil aku ke dalam sepimu," Tulis,” Kebaikan kadangkala hanya menjadi lintasan alfabet di atas air yang tak menyisahkan kalimat; keburukan dan kejahatan seolah tertulis dalam pahatan batu yang tak hilang dalam ratusan abad perjalanan sejarah”. Ku ingat bukan? Sejujurnya begitu, mengadu kepada ibumu yang telah tiada itu? Sungguh Aku tidak ingat apa ujung kalimat yang kau ucap siang tadi, sebelum hujan reda, sebelum kata kerja, sisipan, kata benda, menjelma tanda, ikon, apapun namanya dalam puisi yang kau tulis dengan tangan gemetar menolak kesunyian.
Masih ada banyak beberapa alasan kenapa Aku tak juga mencintaimu: aku tergoda, terpukau akan puisi-puisi mu: “Pada baris dan bait puisi yang kutulis, akan kau kenal dengan baik suaraku; bagaimana aku menebang juga menimbang kesepian , kesunyian dan kesendirian.
Ya,memang ada jeritan di matanya DindaDan
Sisa airmata yang mengental, di kedalaman yang luput, Aku minta maaf dari buku sejarah pernah kutulis semakin hari memudar tentang namamu. Di situ aku menemukan Lampu Merah yang menyala sepanjang arah dan aku tak peduli; bahawa esok hari aku lebih baik mati.